Irit Dan Ramah Lingkungan Dengan Kendaraan Hybrid

Melonjaknya harga minyak dunia yang dibarengi dengan menurunnya produksi MIGAS (Minyak dan Gas) nasional, membuat pemerintah terus berupaya mencari jalan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat akan energi. Berbagai cara dilakukan namun di sisi lain penggunaan bahan bakar fosil yang berlebihan terutama pada kendaraan bermotor ditengarai juga memicu makin tingginya suhu bumi.

Untuk mengurangi penggunaan energi yang berlebihan terutama pada kendaraan bermotor sekaligus menekan tingginya tingkat pencemaran udara, kini beberapa negara memperkenalkan kendaraan-kendaraan ramah lingkungan yang tidak hanya rendah emisi tapi juga hemat energi, karena mesin penggeraknya tidak seluruhnya menggunakan bahan bakar atau sering diistilahkan dengan kendaraan hybrid.

Seperti yang dijelaskan Iwan Abdurahman, Technical Service Division PT. Toyota Astra Motor, “Kendaraan hybrid adalah kendaraan yang menggabungkan dua atau lebih sumber tenaga pada mesinnya. Mobil hybrid menggunakan kombinasi dari motor listrik dan pembakaran di mesin, dengan memaksimalkan kekuatan dari kedua sumber daya tersebut disamping saling mengisi kekurangannya. Hasilnya berupa efisiensi konsumsi bahan bakar didukung dengan performa tenaga yang luar biasa”, ujarnya.

Seperti diketahui, sejarah kendaraan hybrid sebenarnya lahir ketika krisis minyak terjadi di tahun 1960-1970. Sadar kalau sumber energi fosil makin lama akan habis, menimbulkan berbagai pemikiran tentang alternatif pengurangan konsumsi energi dan mengurangi kenaikan polusi akibat tingginya emisi gas yang disumbangkan oleh kendaraan-kendaraan berbahan bakar minyak.

Dengan adanya dua sumber tenaga pada teknologi hybrid ini memang sedikit banyak mengacu pada program penghematan BBM dan mengatasi tingginya pencemaran lingkungan. Seperti yang dikatakan Iwan, khusus mesin hybrid, mesin listriknya bisa mengisi ulang ke aki dengan memanfaatkan energi kinetik saat mengerem (regenerative braking). Bahkan sebagian energi mesin dari mesin bensin/solar/biofuel saat berjalan, listriknya bisa disalurkan untuk mengisi batere/aki. Dengan sistem operasi seperti ini, maka terjadi penghematan BBM.

Pada prinsipnya ada tiga jenis sistem hybrid yang dikenal, yaitu hybrid seri, paralel dan hybrid seri paralel. Pada hybrid seri, mesin bensin bekerja sebagai generator yang berfungsi sebagai pembangkit batere atau tenaga motor elektrik yang menggerakkan transmisi. Mesin bensin tidak pernah langsung menjadi tenaga penggerak kendaraan. Sistem kerja pada hybrid seri dimulai dari tangki bensin menyuplai bensin ke mesin bensin yang selanjutnya menyuplai tenaga ke generator, lalu tenaga yang dihasilkan generator didistribusikan ke batere dan mesin elektrik.

Sementara hybrid paralel, tipe ini memiliki tangki BBM yang menyuplai bensin ke mesin dan batere yang menyuplai tenaga listrik ke mesin elektrik. Baik mesin bensin maupun mesin elektrik dapat menggerakkan transmisi pada saat bersamaan, dan selanjutnya transmisi akan menggerakkan roda. Pada tipe ini tangki bensin dan mesin bensin terhubung ke transmisi secara independen yang mengakibatkan baik mesin elektrik dan mesin bensin dapat menghasilkan tenaga pendorong.

Namun belakangan tipe yang kini banyak digunakan adalah hybrid seri paralel, karena fleksibilitas cara kerja mesinnya. Saat kendaraan bergerak, motor elektrik akan menjadi sumber tenaga. Lalu ketika sudah melaju, mesin bensin pun menyala sambil terjadi proses pengisian untuk betere. Ketika cruising, misalkan pada kecepatan 80 km/jam, motor elektrik akan sesekali membantu memberikan tambahan tenaga untuk mesin bensin.

Efeknya beban mesin bensin pun menjadi lebih ringan, dan konsumsi bahan bakar jadi lebih irit. Sayangnya ketika berakselerasi keduanya akan memberikan daya dorong dengan tambahan motor elektrik yang akan berputar maksimum, sehingga batere lebih cepat terkuras. Namun tak perlu khawatir, karena proses pengisian pun berlangsung cepat. “Selain mesin bensin, ada juga mesin listrik dan baterenya. Jadi saat kecepatan pertama di bawah 30 km/jam, yang jadi sumber tenaganya adalah batere. Kemudian ketika batere sudah mencapai level minimum, kerja akan diambil alih oleh mesin bensin”, terang Iwan di sela-sela workshop tentang teknologi hybrid pada Prius.

Artinya mesin bensin mempunyai dua tugas. Pertama, menjaga kontinuitas pergerakan kendaraan dan kedua, me-recharge batere yang sudah mencapai level minimum. Dengan demikian ketika berhenti, mesin bensin akan mati dan diganti batere lagi. “Begitu seterusnya. Demikian pula ketika menanjak. Dia akan menggunakan batere, tapi begitu dirasa tenaganya kurang yang akan digunakan adalah mesin bensin. Kalau masih kurang juga ditambah motor listrik. Jadi, tenaganya berasal dari 3 sumber”, tambah Iwan yang sekaligus meyakinkan bahwa dengan dukungan tiga sumber, maka mesin kendaraan jenis ini akan memiliki performa yang tangguh, kuat dan cepat.

Dalam sebuah penelitian disebutkan, dengan menggunakan mobil hybrid maka akan tenjadi penghematan bahan bakar fosil sebanyak kurang lebih 15%. Dengan asumsi 1 unit mobil memiliki kapasitas penggunaan bahan bakar fosil sekitar 10 liter dalam 1 hari, maka dengan teknologi mesin hybrid hanya menggunakan sekitar 8,5 liter. Hal ini berarti terjadi penghematan sekitar 1,5 liter dalam 1 hari untuk 1 unit. Kalau di Jakarta saja ada sekitar 1 juta orang yang beralih ke jenis mobil ini, sudah dapat menghemat jutaan liter BBM dalam sehari. Tentu ini sebuah penghematan BBM yang cukup besar, selain itu udara di Jakarta juga akan terasa lebih segar karena tingkat polusi akan berkurang.

sumber :
www.2ndchoices.com

  , , , ,


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>